Puisi Buya Hamka
Puisi

20 Puisi Buya Hamka Yang Tak Lekang Oleh Zaman

Puisi Buya Hamka – Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah yang memiliki nama populer Hamka melahirkan banyak karya selama hidupnya. Meski tak banyak melalui pendidikan formal, namun ilmu, wawasan, dan pengetahuan yang ia miliki sangat luas. Dengan segala keterbatasannya, ia tetap mampu mempelajari ilmu dalam berbagai bidang

Selama hidupnya, Buya Hamka melahirkan banyak karya dalam bentuk buku, puisi, hingga roman. Pada kesempatan kali ini, kami ingin berbagi mengenai sejumlah puisi yang menjadi karya abadi bagi seorang Buya Hamka. Saya pun tetap tertegun ketika membaca puisi – puisi Buya Hamka meski saya telah membacanya berkali – kali. Puisi Buya Hamka masih terus relevan hingga saat ini dalam pandangan saya

1. Terlena

Puisi ini menceritakan sekaligus mengingatkan kita akan waktu yang kadang kita lewati dengan sia – sia. Puisi ini sangat cocok untuk menjadi bahan renungan agar kita tetap memaksimalkan karunia waktu yang kita punya dengan maksimal

TERLENA

Waktu berlalu begitu pantas menipu kita yang terlena. Belum sempat berdzikir di waktu pagi, hari sudah menjelang siang, belum sempat bersedekah pagi, matahari sudah meninggi.

Niat pukul 9.00 pagi hendak Sholat Dhuha, tiba-tiba adzan Dhuhur sudah terdengar.

Teringin setiap pagi membaca 1 juz Al-Quran, menambah hafalan satu hari satu ayat, itu pun tidak dilakukan

Rancangan untuk tidak akan melewatkan malam kecuali dengan Tahajjud dan Witir, walau pun hanya 3 rakaat, semua tinggal angan-angan

Beginikah berterusannya nasib hidup menghabiskan umur? Berseronok dengan usia?

Lalu tiba-tiba menjelmalah usia di angka 30, sebentar kemudian 40, tidak lama terasa menjadi 50 dan kemudian orang mula memanggil kita dengan panggilan “Tok Wan, Atok…Nek” menandakan kita sudah tua.

Lalu sambil menunggu Sakaratul Maut tiba, diperlihatkan catatan amal yang kita pernah buat….

Astaghfirullah, ternyata tidak seberapa sedekah dan infaq cuma sekedarnya, mengajarkan ilmu tidak pernah ada, silaturrohim tidak pernah buat.

Justeru, apakah roh ini tidak akan melolong, meraung, menjerit menahan kesakitan di saat berpisah daripada tubuh ketika Sakaratul Maut?

Tambahkan usiaku ya Allah, aku memerlukan waktu untuk beramal sebelum Kau akhiri ajalku.

Belum cukupkah kita menyia-nyiakan waktu selama 30, 40, 50 atau 60 tahun?

Perlu berapa tahun lagikah untuk mengulang pagi, siang, petang dan malam, perlu berapa minggu, bulan, dan tahun lagi agar kita BERSEDIA untuk mati?

Kita tidak pernah merasa kehilangan waktu dan kesempatan untuk menghasilkan pahala, maka 1000 tahun pun tidak akan pernah cukup bagi orang-orang yang terlena

2. Hanya Hati

Buya Hamka kerap melahirkan karya yang memberikan kritik kepada adat yang berkembang saat itu, salah satunya adalah perjodohan. Puisi ini mengungkapkan tentang cinta yang lebih dari sekedar harta. Berikut puisi Buya Hamka “Hanya Hati” selengkapnya

HANYA HATI

Gajiku kecil
Pencaharian lain tak ada
Kicuh buku aku tak tahu
Korupsi aku tak mahir
Berniaga aku tak pandai

Kau minta permadani
Padaku hanya tikar pandan
Tempat berbaring tidur seorang

Kau minta tas atom
Padaku hanya kampir matur

Kau minta rumah indah perabit cukup
Lihatlah! Gubukku tiris

Kau minta kereta bagus
Aku hanya orang kecil
Apa dayaku
Kekayaanku hanya satu, dik

Hati
Hati yang luas tak bertepi
Cinta yang dalam tak terajuk

Demikianlah sajian kami mengenai kumpulan puisi Buya Hamka yang sepertinya masih sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini. Semoga sajian ini bermanfaat bagi kamu yang membutuhkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *